
Makna al-Qur’an tidak pernah hadir di ruang hampa, melainkan hidup dan memperoleh daya pengaruh melalui bahasa, tradisi, serta otoritas keagamaan yang menjaganya. Buku Lokalitas dan Epistemologi Tafsir di Kediri menguraikan bagaimana pengetahuan tafsir bekerja dalam kehidupan keagamaan masyarakat, berakar pada tradisi pesantren, pengajaran lisan, karya keilmuan lokal, serta pemanfaatan media digital yang terus berkembang. Kediri diposisikan bukan sekadar sebagai tempat, tetapi sebagai horizon pemaknaan yang membentuk cara al-Qur’an dipahami, diwariskan, dan dijalankan. Tafsir dipahami sebagai tradisi intelektual yang berkelanjutan, dijaga melalui kesinambungan otoritas keilmuan dan penerimaan umat, sehingga makna al-Qur’an tetap relevan dalam dinamika kehidupan sosial.
Keistimewaan buku ini terletak pada cara pembahasannya yang menempatkan tafsir sebagai praktik pengetahuan yang hadir dalam keseharian, bukan sebagai wacana yang terpisah dari pengalaman umat. Pembaca diajak menelusuri peredaran makna melalui suara pengajian, bahasa lokal, sanad keilmuan pesantren, hingga ruang digital, sekaligus melihat bagaimana makna dijaga, dinegosiasikan, dan diterima dalam komunitas keagamaan. Dengan narasi reflektif dan argumentatif, buku ini menawarkan pemahaman yang jernih tentang relasi antara teks suci, tradisi keilmuan, dan kehidupan sosial, serta membuka ruang perenungan tentang bagaimana makna al-Qur’an terus dirawat secara etis dan berkelanjutan.