
Buku Tafsir Ekologi: Wahyu, Alam, Kesadaran Kosmik menyajikan sebuah perspektif interdisipliner yang menghubungkan teks wahyu, praktik keagamaan, dan kesadaran ekologis dalam bingkai etika kosmik. Menyadari bahwa krisis lingkungan dewasa ini tidak sekadar masalah teknis atau kebijakan publik, penulis menekankan pentingnya pemaknaan ulang relasi manusia dengan alam dan Tuhan sebagai fondasi etis keberlanjutan. Dengan mengintegrasikan konsep-konsep seperti wahyu teles dan owah gingsir, buku ini menelusuri bagaimana wahyu dan kearifan lokal dapat berfungsi sebagai epistemologi ekologis yang membimbing tindakan manusia dalam menjaga keseimbangan kosmik. Pendekatan yang diambil tidak berhenti pada analisis normatif, tetapi menekankan relevansi praktik sosial, tradisi komunitas, dan pengalaman moral sehari-hari, sehingga tafsir tidak hanya menjadi teks akademik, tetapi juga kesadaran kolektif yang membentuk pilihan dan tanggung jawab ekologis.
Melalui kerangka konseptual yang sistematis, buku ini mengeksplorasi dinamika krisis ekologi sebagai krisis tafsir dan moralitas, menelusuri warisan tafsir klasik, ekoteologi kontemporer, serta kosmologi Qur’ani yang hidup dalam praktik sosial masyarakat. Setiap bab dirancang untuk membangun pemahaman yang utuh, dari refleksi teologis hingga implementasi etika ekologis yang kontekstual, termasuk konsep surga dan neraka sebagai peringatan moral terhadap kerusakan lingkungan serta adaptasi etis melalui owah gingsir. Dengan demikian, buku ini tidak sekadar menawarkan wacana teoritis, tetapi juga membuka dialog lintas disiplin, mempersatukan pembaca akademik, praktisi lingkungan, dan pemikir keagamaan. Pembaca diajak untuk menata ulang kesadaran ekologis yang berpijak pada tanggung jawab moral dan spiritual, sehingga relasi manusia dengan alam dan Tuhan kembali menjadi landasan etika yang transformatif dan berkelanjutan bagi kehidupan kolektif.
.